Sepenggal Catatan Perjalanan
04:45 Edit This 0 Comments »
Gara-gara buka folder-folder lama, saya jadi ingat lagi tentang beberapa tulisan saya di majalah sekolah. Saya tidak pernah mendapat predikat ”pintar menulis” karena memang saya tidak pandai merangkai kata-kata indah. Saya tidak punya pengalaman hebat tentang liputan. Saya juga bukan layouter ataupun designer handal. Foto-foto jepretan saya juga sangat biasa. Tapi saya tetap tertarik dengan jurnalistik, sesuatu yang cerdas.
AKSIS – Ajang Kreatifitas Siswa
Menurut ingatan saya (yang kadang kurang bisa diandalkan), saya bergabung dalam ekstrakulikuler majalah sekolah sejak akhir kelas satu smp. Saya lupa siapa yang mempengaruhi keputusan saya untuk ikut ekskul ini, yang saya ingat awalnya ini bukan keinginan saya sendiri. Tapi ini langkah awal karir jurnalistik saya (oke, berlebihan, tapi saya boleh dong berharap, hehee).
Saya mulai merasakan greget-nya aksis di akhir kelas dua smp. Waktu itu pembuatan majalah sekolah menjadi tanggung jawab angkatan kami dengan sedikit dibantu kakak kelas yang harus mulai pensiun untuk menghadapi ujian. Tapi yang paling terasa sensasinya ketika kami naik kelas tiga smp. Waktu itu saya menjabat sebagai wakil pimpinan redaksi. Dan jujur saja, waktu itu saya kurang mengerti apa itu wakil-pimpinan-redaksi. Masa bodoh, yang penting punya jabatan yang kedengarannya keren, hohoo. Saya ingat betul salah satu tugas utama saya, mengatur jadwal rapat majalah (tapi saya tidak yakin itu benar-benar tugas wakil-pimpinan-redaksi). Setiap kali akan diadakan rapat, saya harus membagi undangan kepada semua anggota dan menulis agenda rapat di papan pengumuman dekat gerbang sekolah. Tugas sederhana maha penting, pikir saya waktu itu.
Sebagai siswa kelas tiga smp, kami menikmati betul sensasi senioritas. Sayangnya adik-adik kelas kami awalnya kurang menunjukkan minat mereka sebagai junior (hahaa, mana ada yang berminat jadi junior!). Jadinya, banyak hal-hal menyenangkan yang kami nikmati sendiri tanpa melibatkan mereka. Hal-hal menyenangkan yang saya maksud di sini adalah kesempatan izin (baca: bolos) pelajaran dan menggunakan fasilitas sekolah (lab komputer, komputer wakasek, dan telepon di ruang kepala sekolah!!!!) dengan alasan pembuatan majalah sekolah (tentu saja dengan mengerahkan kemampuan merayu guru-guru, hehee). Kami beberapa kali mendapat surat izin meninggalkan pelajaran dengan
alasan menyelesaikan pembuatan majalah sekolah. Biasanya kami mulai ”menyelesaikan pembuatan majalah sekolah” ini dari jam pelajaran ke 3 (setelah istirahat pertama) sampai jam pelajaran ke Entah bagaimana caranya, kami juga bisa mendapat kunci lab komputer yang konon guru pelajaran komputer sekolah kami sudah terkenal ke-killer-annya dari generasi ke generasi. Lebih menyenangkan lagi ketika posisi lab komputer yang ada di lantai 3 sekolah dan bersebelahan dengan kantin, jadi kami sama sekali tidak khawatir mengenai pasokan logistik tim majalah sekolah. Pembolosan yang bermartabat.
Semua kenakalan yang kami lakukan gak sia-sia. Bahkan di akhir proses pembuatan majalah, salah seorang teman yang bertugas sebagai lay outer sekaligus editor rela tidak tidur 3 malam (dia tidur siang harinya di kelas). Dan tentu saja majalah kami waktu itu jadi pioneer majalah sekolah dengan tampilan terbaik (bisa dipastikan siapa juri dan peserta dalam pemilihan itu, kami sendiri!). Kesombongan di masa muda yang indah.
WIKARYA – berkarya dengan asa
Bergabung mulai awal kelas satu sma, saya ingin melanjutkan ketertarikan saya pada jurnalistik. Saya punya harapan besar pada majalah sekolah yang dinamai sesuai singkatan semboyan sakti sekolah saya, WIKARYA singkatan dari Widya Karma Jaya. Untuk wikarya pula, saya mengikat janji dengan seorang rekan di sekolah lain untuk sama-sama menjadi ketua umum majalah sekolah masing-masing. Janji yang bahkan belum saya tepati sampai sekarang (maaf pakdhe, ini di luar kehendak saya juga).
Kekecewaan besar ketika gagal memenangkan pemilihan ketua umum mengantarkan saya bertemu seorang partner terhebat yang sampai sekarang tidak tergantikan. Dia teman saya yang diamanahi ketua umum, dengan saya sebagai wakilnya. Sebuah kerjasama yang ajaib antara kami. Kami benar-benar merasa saling melengkapi, kata-kata waktu itu sih, ”aku gak bisa kalo gak ada kamu, kamu juga gak bakal bisa kalo aku gak ada”. Hahahaha. Tapi sayangnya, hubungan ajaib itu berlangsung sampai sekarang. Dengan cara-cara yang sulit dimengerti kami sering mengalami hal yang hampir sama. Dengan mudah saya bisa mengerti apa yang ada di pikirannya dan dengan mudah pula dia bisa merasakan berbagai macam perasaan saya. Jadi, saya tidak pernah menyesal pernah kecewa waktu itu. Dia tetap menjadi partner terbaik saya sampai sekarang.
Di wikarya kami berdua punya banyak mimpi. Melalui wikarya pula kami mewujudkannya. Mulai dari penerbitan majalah, buletin, dan buku kenangan yang waktu itu jadi kegiatan rutin kami. Juga keinginan untuk mengumpulkan teman-teman aktivis majalah sekolah lain dalam satu forum. Forum tersebut hanya berusia dua tahun. Tapi kegagalan waktu itu jugalah yang kini menjadi pondasi terbentuknya sebuah forum baru yang mempunyai visi misi serupa hasil revolusi adik-adik penerus kami. Sekali lagi saya tidak pernah menyesal sama sekali pada kegagalan waktu itu, karena hal tersebut membuka pintu bagi penerus kami untuk mewujudkan impian itu. Saya bangga, tapi saya lebih banyak bersyukur atas ini.
Kerja sama ajaib saya dan partner terbaik saya tersebut ditutup dengan penerbitan buku kenangan (dengan banyak kejadian kontroversial yang mengiringinya!) dan sebuah kenang-kenangan untuk sekolah. Waktu itu kami berdua mengumpulkan wajah teman-teman satu angkatan dalam sebuah frame. Kami melakukannya dengan arti sebenarnya. Hampir 500 lembar pas foto ukuran 3x4 kami susun sedemikian rupa sehingga membentuk foto keluarga besar (benar-benar besar karena ukurannya mencapai 70an cm x 100an cm) angkatan 2008. Mengesankan, karena langkah kami ini diikuti alumni-alumni berikutnya (yap, trendsetter!)
Jalan saya di wikarya memang tidak semulus yang saya harapkan. Tapi tetap saja, saya merasa sukses besar. Karena kami sudah berusaha dengan usaha yang paling baik yang kami bisa. Terlebih lagi karena kami sudah berkarya dengan asa.
FOLIA -- setetes tinta sejuta makna
Boleh dibilang saya terjerumus di sini. Sejak tidak bisa menepati janji pada rekan saya semasa smp, saya agak trauma untuk mencoba lagi, terutama di kampus. Lembaga pers mahasiswa rasanya terlalu besar untuk menampung ide-ide konyol saya yang sering salah perhitungan. Tapi, salah seorang teman berhasil menjerumuskan saya untuk kembali pada jurnalistik. Dan lembaga pers ternyata tidak semenakutkan seperti yang awalnya saya kira.
Belum banyak yang bisa saya tuliskan untuk folia. Lebih tepatnya banyak yang tidak ingin saya tuliskan di sini. Hanya saja yang pasti, folia membantu saya belajar dewasa. Mengerti bahwa hidup itu terus berjalan. Bahwa manusia tidak hidup hanya dengan idealisme mentah. Belajar bagaimana menghadapi berbagai macam jenis manusia dan segala kesulitannya. Belajar untuk kecewa dan berpura-pura. Belajar menghadapi perubahan. Belajar membuat tawa dan memberi motivasi. Belajar untuk menghadapi kemenangan, yang tertunda maupun yang ada di depan mata.
Folia tidak mengijinkan saya bermain-main lagi seperti aksis dan wikarya yang memanjakan saya selama ini. Folia mengharuskan saya membuat sebuah makna, bukan hanya ajang bagi saya untuk mengumbar asa.
AKSIS – Ajang Kreatifitas Siswa
Menurut ingatan saya (yang kadang kurang bisa diandalkan), saya bergabung dalam ekstrakulikuler majalah sekolah sejak akhir kelas satu smp. Saya lupa siapa yang mempengaruhi keputusan saya untuk ikut ekskul ini, yang saya ingat awalnya ini bukan keinginan saya sendiri. Tapi ini langkah awal karir jurnalistik saya (oke, berlebihan, tapi saya boleh dong berharap, hehee).
Saya mulai merasakan greget-nya aksis di akhir kelas dua smp. Waktu itu pembuatan majalah sekolah menjadi tanggung jawab angkatan kami dengan sedikit dibantu kakak kelas yang harus mulai pensiun untuk menghadapi ujian. Tapi yang paling terasa sensasinya ketika kami naik kelas tiga smp. Waktu itu saya menjabat sebagai wakil pimpinan redaksi. Dan jujur saja, waktu itu saya kurang mengerti apa itu wakil-pimpinan-redaksi. Masa bodoh, yang penting punya jabatan yang kedengarannya keren, hohoo. Saya ingat betul salah satu tugas utama saya, mengatur jadwal rapat majalah (tapi saya tidak yakin itu benar-benar tugas wakil-pimpinan-redaksi). Setiap kali akan diadakan rapat, saya harus membagi undangan kepada semua anggota dan menulis agenda rapat di papan pengumuman dekat gerbang sekolah. Tugas sederhana maha penting, pikir saya waktu itu.
Sebagai siswa kelas tiga smp, kami menikmati betul sensasi senioritas. Sayangnya adik-adik kelas kami awalnya kurang menunjukkan minat mereka sebagai junior (hahaa, mana ada yang berminat jadi junior!). Jadinya, banyak hal-hal menyenangkan yang kami nikmati sendiri tanpa melibatkan mereka. Hal-hal menyenangkan yang saya maksud di sini adalah kesempatan izin (baca: bolos) pelajaran dan menggunakan fasilitas sekolah (lab komputer, komputer wakasek, dan telepon di ruang kepala sekolah!!!!) dengan alasan pembuatan majalah sekolah (tentu saja dengan mengerahkan kemampuan merayu guru-guru, hehee). Kami beberapa kali mendapat surat izin meninggalkan pelajaran dengan
alasan menyelesaikan pembuatan majalah sekolah. Biasanya kami mulai ”menyelesaikan pembuatan majalah sekolah” ini dari jam pelajaran ke 3 (setelah istirahat pertama) sampai jam pelajaran ke Entah bagaimana caranya, kami juga bisa mendapat kunci lab komputer yang konon guru pelajaran komputer sekolah kami sudah terkenal ke-killer-annya dari generasi ke generasi. Lebih menyenangkan lagi ketika posisi lab komputer yang ada di lantai 3 sekolah dan bersebelahan dengan kantin, jadi kami sama sekali tidak khawatir mengenai pasokan logistik tim majalah sekolah. Pembolosan yang bermartabat.
Semua kenakalan yang kami lakukan gak sia-sia. Bahkan di akhir proses pembuatan majalah, salah seorang teman yang bertugas sebagai lay outer sekaligus editor rela tidak tidur 3 malam (dia tidur siang harinya di kelas). Dan tentu saja majalah kami waktu itu jadi pioneer majalah sekolah dengan tampilan terbaik (bisa dipastikan siapa juri dan peserta dalam pemilihan itu, kami sendiri!). Kesombongan di masa muda yang indah.
WIKARYA – berkarya dengan asa
Bergabung mulai awal kelas satu sma, saya ingin melanjutkan ketertarikan saya pada jurnalistik. Saya punya harapan besar pada majalah sekolah yang dinamai sesuai singkatan semboyan sakti sekolah saya, WIKARYA singkatan dari Widya Karma Jaya. Untuk wikarya pula, saya mengikat janji dengan seorang rekan di sekolah lain untuk sama-sama menjadi ketua umum majalah sekolah masing-masing. Janji yang bahkan belum saya tepati sampai sekarang (maaf pakdhe, ini di luar kehendak saya juga).
Kekecewaan besar ketika gagal memenangkan pemilihan ketua umum mengantarkan saya bertemu seorang partner terhebat yang sampai sekarang tidak tergantikan. Dia teman saya yang diamanahi ketua umum, dengan saya sebagai wakilnya. Sebuah kerjasama yang ajaib antara kami. Kami benar-benar merasa saling melengkapi, kata-kata waktu itu sih, ”aku gak bisa kalo gak ada kamu, kamu juga gak bakal bisa kalo aku gak ada”. Hahahaha. Tapi sayangnya, hubungan ajaib itu berlangsung sampai sekarang. Dengan cara-cara yang sulit dimengerti kami sering mengalami hal yang hampir sama. Dengan mudah saya bisa mengerti apa yang ada di pikirannya dan dengan mudah pula dia bisa merasakan berbagai macam perasaan saya. Jadi, saya tidak pernah menyesal pernah kecewa waktu itu. Dia tetap menjadi partner terbaik saya sampai sekarang.
Di wikarya kami berdua punya banyak mimpi. Melalui wikarya pula kami mewujudkannya. Mulai dari penerbitan majalah, buletin, dan buku kenangan yang waktu itu jadi kegiatan rutin kami. Juga keinginan untuk mengumpulkan teman-teman aktivis majalah sekolah lain dalam satu forum. Forum tersebut hanya berusia dua tahun. Tapi kegagalan waktu itu jugalah yang kini menjadi pondasi terbentuknya sebuah forum baru yang mempunyai visi misi serupa hasil revolusi adik-adik penerus kami. Sekali lagi saya tidak pernah menyesal sama sekali pada kegagalan waktu itu, karena hal tersebut membuka pintu bagi penerus kami untuk mewujudkan impian itu. Saya bangga, tapi saya lebih banyak bersyukur atas ini.
Kerja sama ajaib saya dan partner terbaik saya tersebut ditutup dengan penerbitan buku kenangan (dengan banyak kejadian kontroversial yang mengiringinya!) dan sebuah kenang-kenangan untuk sekolah. Waktu itu kami berdua mengumpulkan wajah teman-teman satu angkatan dalam sebuah frame. Kami melakukannya dengan arti sebenarnya. Hampir 500 lembar pas foto ukuran 3x4 kami susun sedemikian rupa sehingga membentuk foto keluarga besar (benar-benar besar karena ukurannya mencapai 70an cm x 100an cm) angkatan 2008. Mengesankan, karena langkah kami ini diikuti alumni-alumni berikutnya (yap, trendsetter!)
Jalan saya di wikarya memang tidak semulus yang saya harapkan. Tapi tetap saja, saya merasa sukses besar. Karena kami sudah berusaha dengan usaha yang paling baik yang kami bisa. Terlebih lagi karena kami sudah berkarya dengan asa.
FOLIA -- setetes tinta sejuta makna
Boleh dibilang saya terjerumus di sini. Sejak tidak bisa menepati janji pada rekan saya semasa smp, saya agak trauma untuk mencoba lagi, terutama di kampus. Lembaga pers mahasiswa rasanya terlalu besar untuk menampung ide-ide konyol saya yang sering salah perhitungan. Tapi, salah seorang teman berhasil menjerumuskan saya untuk kembali pada jurnalistik. Dan lembaga pers ternyata tidak semenakutkan seperti yang awalnya saya kira.
Belum banyak yang bisa saya tuliskan untuk folia. Lebih tepatnya banyak yang tidak ingin saya tuliskan di sini. Hanya saja yang pasti, folia membantu saya belajar dewasa. Mengerti bahwa hidup itu terus berjalan. Bahwa manusia tidak hidup hanya dengan idealisme mentah. Belajar bagaimana menghadapi berbagai macam jenis manusia dan segala kesulitannya. Belajar untuk kecewa dan berpura-pura. Belajar menghadapi perubahan. Belajar membuat tawa dan memberi motivasi. Belajar untuk menghadapi kemenangan, yang tertunda maupun yang ada di depan mata.
Folia tidak mengijinkan saya bermain-main lagi seperti aksis dan wikarya yang memanjakan saya selama ini. Folia mengharuskan saya membuat sebuah makna, bukan hanya ajang bagi saya untuk mengumbar asa.

0 komentar:
Poskan Komentar