rumahku (kaya judul karangan anak esde ya ^^)
08:13 Edit This 0 Comments »
Rumah saya biasa-biasa saja. Malah cenderung ketinggalan jaman kalo dibandingin rumah-rumah model jaman sekarang. Terang aja, kata ibu ini rumah usia na udah seabad lebih. Rumah ini harta warisan (hahahaaa, peninggalan leluhur maksudnya), dari pamannya eyang. Eyang putri lebih tepatnya, keluarga yangti asli solo, asli sangkrah (nama kelurahan-red). Konon ibu dari kecil sering main di rumah simbah buyut ini (paman eyang berarti simbahnya ibu,,,ouuuuh). Bahkan ibu belajar masalah pertukangan (ya, pake palu paku kayu gergaji dll) dari simbah buyut ini. Pokoke deket banget sama simbah buyut, ibu juga jadi asisten simbah buat beli tembakau karena jaman dulu rokoknya merk ”tingwe” (linting dewe). Pas simbah sakit juga ibu yang sering merawat. Dan entah gimana ceritanya, pokoknya sejak saya lahir, ibu dan keluarga saya sudah tinggal di rumah ini. Sedangkan rumah asli ibu (rumah eyang) jaraknya cuma bebera puluh meter dari rumah ini.
Seperti yang saya tulis tadi, rumah saya biasa-biasa saja. Kalau ada yang unik ya cuma rumah ini semuanya dari kayu yang bisa dibongkar pasang (asli model rumah jawa kuno) dan jumlah pintu yang selalu bikin tamu yang oertama kali datang ke rumah bingung. Menurut keterangan ibu, kayu rumah ini usianya kurang lebih 100 tahun. Gak tau juga dari kayu jati atau bukan, yang jelas kayu yang rusak sampai sekarang gak ada 10%nya. Mengingat usianya wajar kalo dinding (kayu) kamar saya ada yang membentuk pola aneh. Kelebihannya sih katanya rumah dari kayu tahan gempa, walau alhamdulillah belum terbukti karena solo alhamdulillah lagi aman dari gempa (banjir sih iya!). Tapi kalo cuaca lagi panas, waduuuuh, paling enak di kamar mandi atau guling-guling di depan tivi, itu posisi paling adem. Karena rumah dari kayu cenderung panas, apalagi dengan atap yang ga terlalu tinggi (oke, sepupu-sepupu saya sering kejedot pintu karena lupa tinggi badan!). Desain rumah jawa kuno emang bisa dibongkar pasang. Pas mbak saya nikah di rumah 4 taun lalu, saya lumayan kaget karena selama hidup baru kali itu liat dinding rumah yang dengan gampangnya bisa dicopot dan dipindahin dan pas acara selesai dipasang lagi kaya gak ada apa-apa (semena-mena!). Pas dicopot itu rasanya rumah saya jadi bolong, hehehee. Soal atap yang gak terlalu tinggi ini juga jadi wasiat eyang kakung. Beberapa minggu sebelum beliau meninggal, yangkung jalan kaki (cuma pakai kaos kaki tanpa sandal) dari rumah beliau (yang cuma beberapa puluh meter) ke rumah ini. Kejadian waktu itu cukup mengharukan, intinya yangkung berpesan bahwa suatu saat rumah ini harus ditinggikan atapnya (really miss you so grandpa >.<).
Soal jumlah pintu, dulu pas masih esde saya pernah coba iseng ngitung jumlah pintu rumah, ada sekitar 20an kalau ga salah inget. Jadi gini, rumah ini beberapa kali diubah desain dalamnya menyesuaikan kebutuhan penghuni (hehee), jadi ada kemungkinan jumlah yang saya hitung pas esde beda sama jumlah pintu yang ada sekarang, tapi tetep banyak kok. Tamu yang baru pertama kali datang ke rumah dan minta ijin ke kamar mandi biasanya bingung dia datang dari pintu mana dan harus balik ke pintu yang mana, hahahahaaa.
Anyway, di rumah ini saya belajar berjalan di kaki saya sendiri. Di rumah ini saya jadi anak bungsu yang manja. Di rumah ini juga saya juga pernah jadi anak tunggal yang kesepian. Di rumah ini saya sering menangis diam-diam di kamar. Di rumah ini saya ketawa gulung-gulung sama kakak-kakak saya. Di rumah ini saya jadi buncil dan budhe. Dan masiiiiiih banyak hal di rumah ini, karena 19 tahun saya hidup (sampai hari ini) di solo ya di rumah ini. Saya belum pernah ngerasain pindah rumah (di bayangan saya itu pasti pengalaman yang horor).
Seperti yang saya tulis tadi, rumah saya biasa-biasa saja. Kalau ada yang unik ya cuma rumah ini semuanya dari kayu yang bisa dibongkar pasang (asli model rumah jawa kuno) dan jumlah pintu yang selalu bikin tamu yang oertama kali datang ke rumah bingung. Menurut keterangan ibu, kayu rumah ini usianya kurang lebih 100 tahun. Gak tau juga dari kayu jati atau bukan, yang jelas kayu yang rusak sampai sekarang gak ada 10%nya. Mengingat usianya wajar kalo dinding (kayu) kamar saya ada yang membentuk pola aneh. Kelebihannya sih katanya rumah dari kayu tahan gempa, walau alhamdulillah belum terbukti karena solo alhamdulillah lagi aman dari gempa (banjir sih iya!). Tapi kalo cuaca lagi panas, waduuuuh, paling enak di kamar mandi atau guling-guling di depan tivi, itu posisi paling adem. Karena rumah dari kayu cenderung panas, apalagi dengan atap yang ga terlalu tinggi (oke, sepupu-sepupu saya sering kejedot pintu karena lupa tinggi badan!). Desain rumah jawa kuno emang bisa dibongkar pasang. Pas mbak saya nikah di rumah 4 taun lalu, saya lumayan kaget karena selama hidup baru kali itu liat dinding rumah yang dengan gampangnya bisa dicopot dan dipindahin dan pas acara selesai dipasang lagi kaya gak ada apa-apa (semena-mena!). Pas dicopot itu rasanya rumah saya jadi bolong, hehehee. Soal atap yang gak terlalu tinggi ini juga jadi wasiat eyang kakung. Beberapa minggu sebelum beliau meninggal, yangkung jalan kaki (cuma pakai kaos kaki tanpa sandal) dari rumah beliau (yang cuma beberapa puluh meter) ke rumah ini. Kejadian waktu itu cukup mengharukan, intinya yangkung berpesan bahwa suatu saat rumah ini harus ditinggikan atapnya (really miss you so grandpa >.<).
Soal jumlah pintu, dulu pas masih esde saya pernah coba iseng ngitung jumlah pintu rumah, ada sekitar 20an kalau ga salah inget. Jadi gini, rumah ini beberapa kali diubah desain dalamnya menyesuaikan kebutuhan penghuni (hehee), jadi ada kemungkinan jumlah yang saya hitung pas esde beda sama jumlah pintu yang ada sekarang, tapi tetep banyak kok. Tamu yang baru pertama kali datang ke rumah dan minta ijin ke kamar mandi biasanya bingung dia datang dari pintu mana dan harus balik ke pintu yang mana, hahahahaaa.
Anyway, di rumah ini saya belajar berjalan di kaki saya sendiri. Di rumah ini saya jadi anak bungsu yang manja. Di rumah ini juga saya juga pernah jadi anak tunggal yang kesepian. Di rumah ini saya sering menangis diam-diam di kamar. Di rumah ini saya ketawa gulung-gulung sama kakak-kakak saya. Di rumah ini saya jadi buncil dan budhe. Dan masiiiiiih banyak hal di rumah ini, karena 19 tahun saya hidup (sampai hari ini) di solo ya di rumah ini. Saya belum pernah ngerasain pindah rumah (di bayangan saya itu pasti pengalaman yang horor).

0 komentar:
Poskan Komentar